Indonesia tidak ingin hanya menjadi pengguna atau pasar bagi perkembangan kecerdasan artifisial (AI). Pemerintah mendorong Indonesia mengambil posisi yang lebih strategis dalam rantai industri AI global agar teknologi tersebut dapat menciptakan nilai tambah bagi perekonomian nasional.
Hal itu disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Wamenkomdigi) Nezar Patria dalam acara Deloitte Indonesia Townhall di Jakarta Selatan, Jumat (11/9/2026).
Menurut Nezar, Indonesia memiliki peluang untuk masuk ke berbagai bagian penting dalam rantai industri AI. Salah satunya melalui sumber daya yang dibutuhkan dalam industri semikonduktor, yang menjadi salah satu fondasi utama ekosistem AI.
“Indonesia tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi kecerdasan artifisial,” kata Nezar, seperti dikutip dari keterangan resmi Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi).
Ia menilai tantangan Indonesia bukan sekadar meningkatkan penggunaan AI, tetapi memastikan sumber daya yang dimiliki dapat diolah menjadi bagian dari rantai nilai teknologi.
Dengan pendekatan tersebut, Indonesia diharapkan tidak hanya menjual sumber daya sebagai komoditas, tetapi dapat memperoleh nilai tambah melalui pengembangan industri dan ekosistem teknologi di dalam negeri.
Lima Lapisan Ekosistem AI
Dorongan untuk mengambil posisi lebih besar dalam industri AI sebenarnya telah menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam beberapa bulan terakhir.
Komdigi sebelumnya menjelaskan bahwa pemerintah melihat ekosistem AI sebagai sebuah rantai yang terdiri dari beberapa lapisan, mulai dari energi, infrastruktur, chip, talenta, hingga aplikasi.
Nezar mengatakan Indonesia tidak ingin berhenti pada lapisan aplikasi. Menurutnya, penguasaan ekosistem AI perlu dilakukan secara lebih menyeluruh agar Indonesia memiliki posisi yang lebih signifikan dalam perkembangan AI global.
Pada tahap saat ini, Indonesia masih dapat memanfaatkan foundation model yang telah dikembangkan perusahaan teknologi global. Model tersebut kemudian dapat menjalani proses post-training untuk digunakan dalam berbagai kebutuhan, seperti kesehatan, pertanian, dan pendidikan.
Namun, pemerintah menilai pengembangan AI nasional tidak seharusnya berhenti pada pemanfaatan model yang sudah tersedia.
Infrastruktur dan Chip Jadi Tantangan
Persaingan AI global juga semakin bergeser dari sekadar pengembangan aplikasi menuju penguasaan infrastruktur.
Komdigi menilai energi, pusat data, komputasi, semikonduktor, dan talenta digital menjadi bagian penting dalam menentukan posisi suatu negara di industri AI.
Bagi Indonesia, penguasaan rantai tersebut menjadi tantangan sekaligus peluang.
Indonesia memiliki sumber daya mineral kritis yang dibutuhkan dalam industri teknologi. Namun, keberadaan sumber daya tersebut tidak otomatis membuat Indonesia menjadi pemain utama dalam rantai teknologi.
Nezar menekankan pentingnya mengubah sumber daya tersebut menjadi bagian dari rantai nilai industri sehingga manfaat ekonominya tidak berhenti pada ekspor komoditas.
Pemerintah Siapkan AI Berdaulat
Upaya tersebut juga berkaitan dengan gagasan sovereign AI atau AI berdaulat.
Pada Juli 2026, Komdigi menyatakan Indonesia mulai menyiapkan fondasi kemandirian AI melalui pengembangan model AI lokal, infrastruktur komputasi, dan penguatan talenta digital.
Menurut Nezar, semakin banyak negara mulai membangun kapasitas AI sendiri karena penguasaan teknologi tersebut semakin berkaitan dengan posisi strategis suatu negara dalam rantai pasok global.
Namun, membangun ekosistem AI secara mandiri membutuhkan investasi, infrastruktur, sumber daya manusia, serta kemampuan teknologi yang tidak sedikit.
Karena itu, pemerintah mendorong kolaborasi antara pemerintah, industri, perguruan tinggi, dan perusahaan teknologi untuk membangun ekosistem AI dari hulu hingga hilir.
Bagi Indonesia, tantangannya kini bukan lagi sekadar seberapa banyak masyarakat menggunakan AI, tetapi seberapa besar kemampuan nasional untuk mengembangkan, menyediakan, dan menguasai teknologi di balik AI tersebut.
